Cerpen Sastra : Sajak Aliran Sungai Karya Umi Kullsum

Sajak Aliran Sungai



Aku mematung seperti manusia yang tak bernyawa. Tak percaya jika semua akan berubah dan hilang. Aku harus bangkit dan berusaha tak memikirkan dirimu. Bukannya itu masa lalu dan peristiwa yang tak pantas untuk diingat.
'Aku rindu suara berdesir yang mampu menenangkan sungai yang mulai mengamuk, melawan bongkahan batu itu, kapan suara itu mampu meluluhkan kembali? Kapan kamu akan pulang ke rumah?'.
Aku melontarkan pertanyaan itu bertubi-tubi dengan sebuah photo yang menempel di dinding kamarku.
Sepi menjadi teman akrab setiap hari, denting waktu menjadi lawan bicaraku untuk menunggu kahadiranmu.
Menyesal… menyesal… menyesal…!!!
Apa kata-kata itu yang ada dalam hatimu saat ini. Apa tidak kau ingat surga yang telah dijanjikan Tuhan untuk kita. Kemana dirimu?
Aku menunggu setiap waktu bersama aliran sungai yang mulai mengering.

Saat musim telah berubah, cuaca tak lagi ada. Lipatan bayangmu tak pernah hilang dalam peta jalan raya hidupku. Aku pergi untuk pulang, dan aku pulang untuk sebuah kehormatan cinta agar aku bisa membangun surga Tuhan untuk mu.
'Adikku sayang, jangan pernah berbalik arah, teruslah melangkah maju, untuk menunggu sampan menepi di depan pintu jingga. Itulah tempat kita mempersatukan peta jalan raya hidup sejati. Setiap hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi, seperti aku yang tak pernah berhenti menguak mimpi tentangmu'.

Aku singgah di pemondokkan swarkarsa. Aku bertahan dan berharap cepat kembali bersamamu.
Musim yang cepat berubah, berubah pula keadaan sungai itu. Tidak lagi jernih sejernih tirta cinta kita. Aku harus pergi meninggalkanmu dan melupakanmu. Aku akan membangun monumen baru bersama perempuan berkerudung putih. Biaksa… ya, itulah namanya. Perempuan yang mampu menghapus bayangmu dalam setiap mimpiku. Dan aku sangat tahu bahwa kamu bisa melupakan peta jingga yang aku janjikan. Bersemayam dengan orang yang akan membangunkan monumen megah untukmu.

Aku tetap bersimpuh di balik batu yang menggunung di pinggiran sungai. Aku tetap setia menunggu kehadiran bintang dalam setiap malam, cahaya surya dalam setia paginya. Aku menyusuri sungai itu dan mengambil sepercik air. Kemudian aku meminumnya. 'Mengapa rasa air itu berubah? Mengapa tak semanis dulu? Mengapa berubah menjadi masam? Apakah dirimu baik-baik saja? Apakah engkau sakit?'. Aku kembali membatu di gundukan pasir bersama sejuta tanya dan keping risau dalam jiwa. Namun air itu tak kunjung menjawab lontaran tanyaku.

Pelangi menghitam, gemuruh berdayuh dan langit pun memberontak seakan marah pada jagad. Meskipun menyisakan warna biru dalam titik terangnya. Garis cakrawala meredup dan akhirnya hilang. Gelap mataku memandang jauh deburan sungai. Dimanakah semesta saat itu? Tak ada tempat aku berlindung di antara gebyuran pilu.

Aku mengikuti ilmu embun yang setia dengan pagi. Aku menunggu di depan pintu jingga. Memandang sebuah photo yang tersenyum indah di balik kaca jendela. Rasaku tak berubah, meskipun rasa air sungai telah berubah menjadi masam. Inginku beri beberapa kilogram gula agar air itu berubah menjadi manis kembali. Tapi apalah daya kekecewaan masih menemuiku dan tak kunjung pergi.

Aku tak pernah menyesali kesetiaanku padamu, karena aku yakin suara itu akan kembali menenangkan riuhnya ombak yang menghantam bebatuan pinggiran sungai.

Jika hakim mengetuk palunya, tak usah kau pertanyakan siapa yang bersalah, karena itulah aku. Aku tak mampu membendung air yang mengalir di sungai kita. Kini air itu berlimpah ruah menyusuri telaga dalam. Bahkan menjadi istana milyaran ikan dan penghuni air lainnya. Monumen itu semakin kuat merangkul indahnya perempuan berkerudung putih. Mungkin malaikat tak sudi mengecup lagi meskipun kening telah membekas karena terlalu lama bersujud.
Sudah, berhentilah menungguku, karena itu akan menyisakan luka nan lara. Aku lelah dengan sajak-sajak yang kau kirim lewat aliran sungai itu. Aku letih mendengar rintihanmu tentang peta jalan raya hidup yang tak bertujuan. Aku telah menemukan kejora di pemondokkan swakarsa. Aku telah berlabuh dan takkan kembali berlayar dengan sampan tua yang menepi di pintu jingga.

Petir menyambar semesta. Ia menghancurkan aliran sungai yang telah aku beri gula, bahkan ia tega mengobrak-abrik pintu jingga. Ingin aku berteriak sekuat tenaga dan memberitahukan pada angin yang berdesir pagi itu.
Aku pun mencoba mengerti kenapa langit marah. Mungkin ada yang melukainya sehingga ia mengamuk pintu jingga. Waktu senantiasa kuhimpit untuk menandai kepulanganmu.

Sepercik air sungai berbisik kepadaku senja itu. Mengabarkan bahwa kau telah membangun monumen baru yang lebih sempurna dari monumen pintu jingga. Aku berdiri mematung mendengar kabar itu. Lebih dahsyat dari petir yang menyambar alam. Kini petir itu telah merasuk dan menjelma dalam sukma batinku.
Apalah cinta, pikirku.

Hanya sajak indah yang membuat aku terlena. Penantianku berhenti di aliran sungai masam. Aku menggigil dingin. Ya… sangat dingin malam itu, menyayat-nyayat batinku, meninggalkan genangan lara dalam jiwa.
Aku pergi bersama setianya embun di padi hari. Aku mati bersama cinta yang membuat nadi berhenti. Aku musnah bersama jantung yang berhenti berdetak. Aku hilang bersama akrabnya sunyi.

Cerpen Karangan: Umi Kullsum
Facebook: Umi Kulsum

Postingan populer dari blog ini

PUISI : ᴛᴀɴʏᴀ ᴄɪɴᴛᴀ

Puisi : Bekas Luka Trauma Karya Reza Fahlevi

Puisi : Bukan Aku Yang Kau Butuhkan Karya Awan Hitam