Puisi Mantra : Tujuh Mantra Jahanam Karya Yuli Atilam Saani
Mari kita mulai.
dengan aroma darah di ujung mawar disematkan dalam dialog liarnya kekeringan.
Keraguan? Sudah tidak bernyawa
karna pada titik jenuh ini hanya kau pemilik tuan,yang berhak manyawakan kidung-kidung kentalnya.
Darah apa lagi selain aliran beraroma nyanyian melati pada tengah malam.
ah syang
mantra-mantra ini tertuju pada pelupaan, pada luka.
mantra ini belahan lidah tanpa ludah.
aku luka rindu sepinya berdarah .
darah luka pada pukulan roh-roh berjibun kesesatan.
datanglah
wewangian ini telah terterap setiap perjumpaan.
datanglah
dalam tetesan kegelapan tangan langit merayap tubuh bumi.
o
o
o
datanglah
gumpalan asap helaan nafas ,sendu kemenyan,
tak ada selain hebatnya kidung rindu menjadi baca-baca untuk roh dimasa lalu.
ah ah ah
datanglah
dalam luka laki akil
gubuk sembelih bibirku basah.
Ah datanglah,dalam ritual ini
Tujuh mata air,air mata tujuh semburkan dalam tujuh goa.
kesunyian beranak pinak dalam baris pemilik bibir kegelapan.
bisikan tapak tujuh perawan pemilik akar keramat.
kini
biarkan tujuh mantra jahanam menjadi raga,kau penggal bisikan dalam luka.
tangan penuh tetesan darah,lihat dalam setubuhan asap kental memanggil namamu tujuh kali terkoyak.
mantra ini akan menina bobokkan kau pastinya.
dukaku,beralih seketika disudut dukamu.
Oh
Oh
kau yang kugantung dalam satu sabda.
nikmtilah darah-darah segar pada tiang matamu
terdahulu air mengalir kau katakan suci.
lubang sumur pada wajahmu menerka kedatangan ku.
tak ada aku yang kau kenal.
melati,kemenyan,dupa telah usai ku bakar
jadi beruntunglah kau dalam kesakitan tujuh ingatan kematian darah beku.
datanglah
datanglah tanpa potongan
datanglah tusukan wewangian
datanglah menghunus ke rongga pekik kesakitan
datanglah.
Ah ah
O
MUNGKA 19 Oktober 2019