Postingan

π™Ώπšžπš’πšœπš’ : My love changed so fast

 I don't know why at the moment he changed so quickly.  When what was originally quiet was calm just like harmony in general now everything changed from its desire.  I don't know what he really wants, I don't know, but because of his changed nature like this I feel too much guilt.  O my love...  To be honest, this is actually getting tired of me running it, and I'm not able to live in a relationship where you always find my fault lies with you.  But...  I also don't really want our relationship to fall apart because of the little problems we're dealing with.  I love that you are my lover...  I love you, my love...  I can't live if you're not by my side.  For my beloved beloved a thousand loves and love will I suck from the root of love  Thank you for your presence until now, my love. ʙᴏɒᴏʀ, 𝟷𝟽-α΄€α΄˜Κ€Ιͺʟ-𝟸𝟢𝟸𝟻 α΄€Κ™α΄€α΄….Ιͺ

*PERCAKAPAN KANJENG SUNAN KALIJAGA DAN SYEKH SITI JENAR (Sebuah Kisah Fiktif)*

 *PERCAKAPAN KANJENG SUNAN KALIJAGA DAN SYEKH SITI JENAR (Sebuah Kisah Fiktif)* ________________________________________________________ SUNAN KALIJAGA : Dimas, keadaan makin keruh apakah tidak sebaiknya ini dihentikan? SITI JENAR : Keruh itu berasal dari diri manusia bukan dari luar manusia SUNAN KALIJAGA : Apakah yang membuat diri manusia keruh? SITI JENAR : Sebab manusia memberi ruang sebesar-besar untuk dirinya, namun tidak untuk pikirannya. Memberi kesempatan seluas-luasnya bagi kepentingannya namun mempersempit ruang untuk akalnya. SUNAN KALIJAGA : Apakah akal dan pikiran tak menarik hati sehingga tak diberikan ruang itu? SITI JENAR : Selalu menarik bagi hati namun tak menarik bagi nafsu. Maka hatinya sepi dan berpenyakit karena tak pernah mengambil pelajaran. Tadzakaruun. SUNAN KALIJAGA : Bukankah pelajaran terhampar pula di luar dirinya, untuk membantu dirinya membaca dan mengambil pelajaran secara lebih mudah karena tak kuasa mengambil pelajaran dari dirinya sendiri...

Puisi : Rumah Yang Hanya Dikepala Karya Aip Orlandio

 *RUMAH YANG HANYA ADA DIKEPALA* Karya: Aip Orlandio Apa yang lebih ramai dari isi kepala lelaki?  Ia berjalan di trotoar yang bising, di sela gedung-gedung yang tak pernah mengingat namanya. Di kantongnya ada sisa gaji, di bahunya ada beban yang tak bisa ia hitung, di dadanya ada pertempuran yang tak bisa ia ceritakan. Dan lelaki, adalah musim hujan yang selalu datang sendirian, membasahi tanah yang tak pernah memintanya, menyuburkan luka yang ia ingin lupakan. Ia lelaki—mencari tempat istirahat di dunia yang tak memberinya sandaran, memanggul nama keluarga di punggungnya, menjejalkan mimpi-mimpi ke dalam lemari sempit, memilih diam agar tak ada yang tahu betapa ribut isi kepalanya. Ia tahu, dunia tak memberi jeda, dan lelaki tak diajarkan cara meminta waktu untuk bernapas. Maka ia berjalan, dengan kaki yang ia paksa kuat, dengan hati yang sudah lama kelelahan. Namun di suatu malam di bawah lampu jalan yang enggan redam, ia melihat bayangannya sendiri. Dan ia bertanya, “sampa...

Puisi : Biografi Tubuh Ibu karya : aip orlandio

 *BIOGRAFI TUBUH IBU* Karya: Aip Orlandio _Kata pertama yang ditulis ibu adalah namaku, di perutnya, sebelum ia bisa mengeja sakit._ Ibu, tubuhnya sebuah negeri— Di dahinya: jalan-jalan retak yang ia tempuh setiap subuh Di tangannya: sungai-sungai kecil yang mengering di musim susah Di kakinya: luka-luka yang ditinggalkan jarak Di punggungnya: gunung yang menanggung hari-hari Ibu, tubuhnya sebuah rumah,   atapnya rapuh,   tiangnya bengkok,   tapi dindingnya selalu terbuka.   _Kata pertama yang kulis adalah tangis, di tubuhnya, sebelum aku bisa mengeja dunia._ Ibu, tubuhnya sebuah pagi— Ia merebus matahari di dapur yang sempit,    menuangnya ke dalam cangkir,   memaksaku meneguknya sebelum aku sempat bertanya:   “Kenapa pagi selalu pahit?” Di perutnya: bunyi panci berdenting dengan nasib Di dadanya: kabut yang menolak pergi Di matanya: kalender yang tak bisa ia baca _ia lupa tanggal lahirnya sendiri, tapi ingat ka...

Puisi : Berdesakan Di Kepala Karya Aip Orlandio

 *BERDESAKAN DI KEPALA* Karya: Aip Orlandio Setiap malam. Setiap. Malam. Segala rupa urusan datang tanpa aba-aba, berjubel di kepala seperti penumpang Commuter Line di jam sibuk—berdesakan, tanpa ruang bernapas.    Gaji bulan ini? Menyusut lebih cepat dari niat menabung.   Makan besok? Bukan soal kenyang, tapi soal bertahan.   Lalu datanglah yang lebih berat: perkara keluarga yang lebih rumit dari benang kusut, pertanyaan soal jodoh yang lebih sering mampir daripada kepastian, bayangan rumah masa depan yang masih sebatas sketsa kabur, pekerjaan yang ingin kupilih tapi justru memilihku untuk ditolak.   Semuanya. Semuanya. Menumpuk di kepala seperti utang yang kupikir sementara, tapi ternyata betah menetap.   Rasanya ingin kupecahkan saja—biar berhamburan di lantai, biar bisa kulihat satu-satu:   "Oh, ini luka lama yang kukira sudah sembuh, ini cita-cita yang terbengkalai, ini beban yang katanya cuma lewat tapi malah mengina...

Puisi : Heimatlos : Aku asing bahkan dikepalaku sendiri karya Aip Orlandio

 *Heimatlos: Aku Asing, Bahkan di Kepalaku Sendiri* Karya: Aip Orlandio I Aku terbangun di tengah malam yang lupa namaku. Jam di dinding berderak, tapi tak menunjukkan arah.   Kursi di pojok kamar tampak letih, seperti tahu bahwa aku telah duduk terlalu lama di atas keraguan.   Buku-buku berserakan, halaman-halaman terbuka, tapi tak ada kata yang sanggup menjawab:   “harus ke mana aku sekarang?”  _Seseorang sedang berbicara dengan dirinya sendiri, tapi tak ada yang mendengar._ Kota ini terlalu gaduh untuk kesepianku.   Jalan-jalan membentang, tapi tak ada yang menuju rumah.   Aku berjalan, membawa tubuh yang semakin berat, membawa kepala yang penuh rencana-rencana, membawa hati yang tak tahu harus berharap pada siapa.   _Di depan lampu merah, aku berhenti. Menghitung nyawa yang melintas seperti angka_ II Aku menulis surat kepada diriku sendiri.   Isinya:   "Jangan menangis" Tapi aku tahu aku berboh...

Puisi : Bunga Sakura Karya Lirik Aksara

 Bunga sakura Kelopak bunga sakura jatuh berguguran Memeluk setiap perasaan yang berdebar Mimpi bersamamu di musim semi yang kuharapkan itu Bahkan kini masih terlihat, bunga sakura pun bertebaran Dari kereta aku dapat melihatnya Bayangan di hari itu Jembatan besar yang kita lewati di musim semi Waktu kelulusan pun datang Dan kau meninggalkan kota ini Di tepian sungai yang penuh warna, aku mencari hari itu Kita memilih jalan masing-masing Membawa musim semi menuju akhir Masa depan yang mekar sempurna Membuatku merasa tergesa-gesa Di jendela kereta pada jalur Odakyuu Tahun ini bunga sakura pun terbayang Suaramu tersimpan di dalam hatiku Dan aku dapat mendengarnya Kelopak bunga sakura jatuh berguguran Memeluk setiap perasaan yang berdebar Mimpi bersamamu di musim semi yang kuharapkan itu Bahkan kini masih terlihat, bunga sakura pun bertebaran Kalimat yang kuucapkan di awal surat Adalah "aku baik-baik saja" Kau tahu bahwa aku berbohong, iya kan? Bahkan kota yang berlalu ini Berbi...

Puisi ; 7 orange Karya Lirik Aksara

 7 Orange Orange - 7!! Kita berjalan dengan bahu yang sejalan Tertawa karena hal-hal sepele Seperti kita maju mengejar mimpi yang sama Jika aku mendengarnya dengan seksama, Aku masih bisa mendengarnya.. Suaramu.. mewarnai kota ini menjadi Orange Ketika kau tidak ada di sisiku, aku merasa sangat bosan. Namun, saat kukatakan aku kesepian, kau hanya tersenyum kepadaku Aku hanya terus menyebut hal-hal yang kutinggalkan Itu selalu bersinar terang, tak pernah pudar Seperti langit setelah hujan turun, seperti membersihkan hati seseorang Aku ingat senyummu, selalu terbayang di pikiranku Aku tidak bisa menahan senyuman, Pastinya, seperti kami di hari itu, Seperti anak kecil yang tidak bersalah Kami berlari melalui musim yang terus berganti, melihat masing masing hari esok Setiap kali aku sendirian dan mulai merasa tidak nyaman Disaat malam aku tidak bisa tidur Aku hanya ingin kita terus berbicara Aku ingin tahu apa yang akan kau lihat di sana Apakah sama dengan apa yang kulihat di sini Aku ...

Puisi : Menjadi Hujan

 MENJADI HUJAN Orang-orang dewasa itu aneh. Mereka bilang menyukai hujan, tapi selalu berlindung di balik payung, berlindung di bawah atap. Bahkan beberapa dari mereka memaki karena hujan membuat baju mereka basah. Mereka tidak benar-benar menyukai, hanya mulutnya saja, tindakannya tidak. Mereka hanya mencari sensasi atau sedang menjual romantisme. Nyatanya, mereka menyesali hujan yang tak kunjung reda, mendinginkan udara sekitar, dan membuat jemurannya tak kunjung kering. Sayang cintanya hanya sebatas kata, sayang katanya hanya sebatas kalimat status di media sosialnya. Hanya menjadi foto untuk mendukung kesenduannya. Aku rasa, kita tidak akan mengerti hujan kecuali menjadi hujan itu sendiri. Bagaimana bila sesekali kita mendengar kata orang bahwa mereka menyukai kita padahal dibelakang itu semua mereka tidak demikian. Manusia banyak yang seperti itu. Manusia telah terlatih untuk berpura-pura di hadapan orang lain. Memanipulasi sikapnya dan menyaring kata-katanya menjadi manis. Me...

PUISI : ᴛᴀɴʏᴀ α΄„ΙͺΙ΄α΄›α΄€

 "ᴛᴀɴʏᴀ α΄„ΙͺΙ΄α΄›α΄€" α΄…Ιͺ sα΄‡Κ™α΄œα΄€Κœ ᴛᴀᴍᴀɴ ʏᴀɴɒ ᴛᴇɴᴀɴɒ, α΄…α΄œα΄€ Κœα΄€α΄›Ιͺ Κ™α΄‡Κ€α΄›α΄‡α΄α΄œ. sᴇᴏʀᴀɴɒ α΄‘α΄€Ι΄Ιͺα΄›α΄€ α΄…α΄€Ι΄ sᴇᴏʀᴀɴɒ α΄˜Κ€Ιͺα΄€ α΄…α΄œα΄…α΄œα΄‹ α΄…Ιͺ Κ™α΄€Ι΄Ι’α΄‹α΄œ, sα΄€ΚŸΙͺΙ΄Ι’ Κ™α΄‡Κ€α΄›α΄€α΄›α΄€α΄˜α΄€Ι΄ ᴅᴇɴɒᴀɴ ᴍᴀᴛᴀ α΄˜α΄‡Ι΄α΄œΚœ α΄›α΄€Ι΄α΄…α΄€ ᴛᴀɴʏᴀ.   α΄‘α΄€Ι΄Ιͺα΄›α΄€:   α΄‹α΄€α΄œ α΄…α΄€α΄›α΄€Ι΄Ι’ ʙᴇɒΙͺα΄›α΄œ sα΄€α΄Šα΄€,   α΄›α΄€Ι΄α΄˜α΄€ α΄Šα΄€Ι΄α΄ŠΙͺ, α΄›α΄€Ι΄α΄˜α΄€ sα΄œα΄€Κ€α΄€,   ᴍᴇᴍʙᴀᴑᴀ Κœα΄œα΄Šα΄€Ι΄ ʏᴀɴɒ α΄α΄‡Ι΄Κα΄‡α΄Šα΄œα΄‹α΄‹α΄€Ι΄,   Ι΄α΄€α΄α΄œΙ΄, α΄α΄‡Ι΄Ι’α΄€α΄˜α΄€ α΄€α΄…α΄€ Κ€α΄€sα΄€ ʏᴀɴɒ α΄α΄‡Ι΄Ι’Ι’α΄€Ι΄α΄Šα΄€ΚŸ α΄…Ιͺ Κœα΄€α΄›Ιͺ?   α΄˜Κ€Ιͺα΄€:  α΄€α΄‹α΄œ α΄…α΄€α΄›α΄€Ι΄Ι’, ᴋᴀʀᴇɴᴀ α΄€α΄‹α΄œ α΄›α΄€α΄‹ Κ™Ιͺsα΄€ α΄˜α΄‡Κ€Ι’Ιͺ,   sᴇᴛΙͺα΄€α΄˜ ΚŸα΄€Ι΄Ι’α΄‹α΄€Κœ ʏᴀɴɒ α΄‹α΄œα΄›α΄‡α΄α΄˜α΄œΚœ,   sα΄‡ΚŸα΄€ΚŸα΄œ α΄‹α΄‡α΄Κ™α΄€ΚŸΙͺ α΄˜α΄€α΄…α΄€α΄α΄œ.   α΄α΄œΙ΄Ι’α΄‹ΙͺΙ΄ α΄€α΄‹α΄œ Κ™α΄œα΄‹α΄€Ι΄ ʏᴀɴɒ ᴛᴇʀʙᴀΙͺα΄‹,   α΄›α΄€α΄˜Ιͺ Κœα΄€α΄›Ιͺα΄‹α΄œ sα΄œα΄…α΄€Κœ ΚŸα΄€α΄α΄€ ᴍᴇᴍΙͺʟΙͺʜ.   α΄‘α΄€Ι΄Ιͺα΄›α΄€:   α΄›α΄€α΄˜Ιͺ, α΄α΄‡Ι΄Ι’α΄€α΄˜α΄€ α΄›α΄€α΄‹ α΄˜α΄‡Κ€Ι΄α΄€Κœ α΄‹α΄œα΄‹α΄€α΄›α΄€α΄‹α΄€Ι΄?   α΄€α΄…α΄€ α΄Šα΄€Κ€α΄€α΄‹ ʏᴀɴɒ α΄›α΄€α΄‹ α΄˜α΄‡Κ€Ι΄α΄€Κœ α΄‹Ιͺα΄›α΄€ sα΄‡ΚŸα΄€α΄Ιͺ,   α΄€α΄…α΄€ α΄‹α΄€α΄›α΄€ ʏᴀɴɒ ᴛᴇʀsᴇᴋᴀᴛ α΄…Ιͺ Κ™ΙͺΚ™ΙͺΚ€,   α΄α΄‡Ι΄Ι’α΄€α΄˜α΄€ α΄‹Ιͺα΄›α΄€ Κœα΄€Ι΄Κα΄€ α΄…Ιͺᴀᴍ α΄…α΄€ΚŸα΄€α΄ ᴋᴇʀᴀᴍᴀΙͺα΄€Ι΄ ΙͺΙ΄Ιͺ?   α΄˜Κ€Ιͺα΄€:  α΄α΄œΙ΄Ι’α΄‹ΙͺΙ΄ ᴋᴀʀᴇɴᴀ α΄‹Ιͺα΄›α΄€ α΄›α΄€α΄‹α΄œα΄› α΄‹α΄‡ΚœΙͺΚŸα΄€Ι΄Ι’α΄€Ι΄,   α΄›α΄€α΄‹α΄œα΄› ᴊΙͺα΄‹α΄€ α΄‹Ιͺα΄›α΄€ α΄α΄‡Ι΄Ι’α΄œΙ΄Ι’α΄‹α΄€α΄˜α΄‹α΄€Ι΄,   Κ€α΄€sα΄€ ΙͺΙ΄Ιͺ α΄α΄‡Ι΄α΄Šα΄€α΄…Ιͺ ʙᴇʙᴀɴ,   α΄…α΄€Ι΄ α΄‹Ιͺα΄›α΄€ α΄›α΄€α΄‹ Κ™Ιͺsα΄€ ΚŸα΄€Ι’Ιͺ α΄‹α΄‡α΄Κ™α΄€ΚŸΙͺ sα΄‡α΄˜α΄‡...

PUISI : α΄€Κα΄€Κœ, Ιͺα΄’ΙͺΙ΄α΄‹α΄€Ι΄ Ι’α΄€α΄…Ιͺs ᴋᴇᴄΙͺʟᴍᴜ α΄˜α΄€sΚ€α΄€Κœ

 α΄€Κα΄€Κœ, Ιͺα΄’ΙͺΙ΄α΄‹α΄€Ι΄ Ι’α΄€α΄…Ιͺs ᴋᴇᴄΙͺʟᴍᴜ α΄˜α΄€sΚ€α΄€Κœ.  α΄€Κα΄€Κœ, α΄…Ιͺ α΄€Ι΄α΄›α΄€Κ€α΄€ Κ€ΙͺΚ™α΄œα΄€Ι΄ α΄α΄€ΚŸα΄€α΄ ʏᴀɴɒ sᴜɴʏΙͺ   α΄€α΄‹α΄œ ᴍᴀsΙͺʜ ᴍᴇɴᴄᴀʀΙͺ α΄Šα΄‡α΄Šα΄€α΄‹ ΚŸα΄€Ι΄Ι’α΄‹α΄€Κœα΄α΄œ α΄…α΄€ΚŸα΄€α΄ ᴍΙͺᴍᴘΙͺ   ᴍᴇɴɒΙͺΙ΄Ι’α΄€α΄› ɒᴇɴɒɒᴀᴍᴀɴ α΄›α΄€Ι΄Ι’α΄€Ι΄α΄α΄œ ʏᴀɴɒ α΄…α΄œΚŸα΄œ ᴇʀᴀᴛ   ᴍᴇʀᴀsα΄€α΄‹α΄€Ι΄ α΄…α΄‡α΄‹α΄€α΄˜α΄α΄œ ʏᴀɴɒ sα΄‡ΚŸα΄€ΚŸα΄œ Κœα΄€Ι΄Ι’α΄€α΄›   Ι΄α΄€α΄α΄œΙ΄, α΄€Κα΄€Κœ, α΄‘α΄€α΄‹α΄›α΄œ α΄›α΄‡Κ€α΄œs Κ™α΄‡Κ€ΚŸα΄€Κ€Ιͺ   α΄€α΄‹α΄œ α΄›α΄œα΄Κ™α΄œΚœ, α΄…α΄œΙ΄Ιͺα΄€ ᴘᴜɴ ʙᴇʀɒᴀɴᴛΙͺ   α΄€α΄…α΄€ ΚŸα΄œα΄‹α΄€ ʏᴀɴɒ α΄›α΄€α΄‹ Κ™Ιͺsα΄€ α΄‹α΄œΚœΙͺΙ΄α΄…α΄€Κ€Ιͺ   α΄€α΄…α΄€ Κ€ΙͺΙ΄α΄…α΄œ ʏᴀɴɒ α΄›α΄€α΄‹ Κ™Ιͺsα΄€ α΄‹α΄œα΄Κ™α΄€α΄›Ιͺ   ᴛᴇʀᴋᴀᴅᴀɴɒ α΄€α΄‹α΄œ ΙͺΙ΄Ι’ΙͺΙ΄ Κ™α΄‡Κ€Κœα΄‡Ι΄α΄›Ιͺ sα΄‡α΄Šα΄‡Ι΄α΄€α΄‹   α΄α΄‡ΚŸα΄‡α΄˜α΄€s ΚŸα΄‡ΚŸα΄€Κœ α΄…Ιͺ α΄˜α΄€Ι΄Ι’α΄‹α΄œα΄€Ι΄α΄α΄œ ʏᴀɴɒ ᴍᴇɴᴇɴᴀɴɒᴋᴀɴ   α΄›α΄€α΄˜Ιͺ α΄€α΄‹α΄œ α΄›α΄€Κœα΄œ, ʜΙͺα΄…α΄œα΄˜ α΄›α΄€α΄‹ sα΄‡ΚŸα΄€ΚŸα΄œ ᴛᴇɴᴛᴀɴɒ α΄‹α΄‡α΄Κ™α΄€ΚŸΙͺ   α΄‹α΄€α΄…α΄€Ι΄Ι’, α΄‹Ιͺα΄›α΄€ Κœα΄€Κ€α΄œs α΄α΄‡ΚŸα΄€Ι΄Ι’α΄‹α΄€Κœ ᴍᴇsα΄‹Ιͺ sᴇɴᴅΙͺΚ€Ιͺ   α΄€Κα΄€Κœ, Ιͺα΄’ΙͺΙ΄α΄‹α΄€Ι΄ Ι’α΄€α΄…Ιͺs ᴋᴇᴄΙͺʟᴍᴜ α΄˜α΄€sΚ€α΄€Κœ   Κ™α΄œα΄‹α΄€Ι΄ α΄œΙ΄α΄›α΄œα΄‹ α΄α΄‡Ι΄Κα΄‡Κ€α΄€Κœ, Κ™α΄œα΄‹α΄€Ι΄ α΄œΙ΄α΄›α΄œα΄‹ α΄‹α΄€ΚŸα΄€Κœ   α΄›α΄€α΄˜Ιͺ α΄€Ι’α΄€Κ€ α΄€α΄‹α΄œ Κ™Ιͺsα΄€ ᴍᴇɴᴇʀΙͺᴍᴀ ᴋᴇɴʏᴀᴛᴀᴀɴ   Κ™α΄€Κœα΄‘α΄€ α΄›α΄€α΄‹ sα΄‡α΄α΄œα΄€ Κœα΄€ΚŸ Κ™Ιͺsα΄€ α΄‹α΄œΙ’α΄‡Ι΄Ι’Ι’α΄€α΄ α΄…α΄€ΚŸα΄€α΄ α΄›α΄€Ι΄Ι’α΄€Ι΄   ᴊΙͺα΄‹α΄€ sα΄œα΄€α΄›α΄œ Κœα΄€Κ€Ιͺ α΄€α΄‹α΄œ α΄‹α΄‡ΚœΙͺΚŸα΄€Ι΄Ι’α΄€Ι΄ α΄€Κ€α΄€Κœ   ᴊΙͺα΄‹α΄€ ΚŸα΄€Ι΄Ι’α΄‹α΄€Κœα΄‹α΄œ Ι’α΄Κα΄€Κœ α΄…Ιͺ α΄›α΄‡Ι΄Ι’α΄€Κœ Ι’α΄‡ΚŸα΄α΄Κ™α΄€Ι΄Ι’ α΄˜α΄€sΚ€α΄€Κœ   α΄€α΄‹α΄œ Κœα΄€Ι΄Κα΄€ ΙͺΙ΄Ι’ΙͺΙ΄ α΄‹α΄€α΄œ α΄›α΄€Κœ...

puisi: ^^Bu, Aku gagal

  ^^Bu, Aku Ι’α΄€Ι’α΄€ΚŸ^^ -------------------------------------------------------------------- --- Bu, aku pulang dengan kepala tertunduk,   Langkahku berat, seperti diikat kenangan yang patah.   Di tanganku tak ada piala,   Di dadaku tak ada kebanggaan,   Hanya seonggok luka yang tak berani kuceritakan.   Bu, aku gagal.   Kudengar orang-orang berbisik,   *"Anak itu bukan siapa-siapa."*   Mereka tertawa di belakang punggungku,   Dan aku diam, membiarkan suaraku tenggelam dalam malu.   Dulu aku datang kepadamu dengan cerita kemenangan,   dengan bintang-bintang kecil di genggaman,   dan kau tersenyum bangga sambil berkata,   *"Anakku hebat, anakku kuat."*   Tapi kini aku pulang dengan tangan kosong,   dengan mata yang berat oleh air mata yang kutahan.   Bu, aku mengecewakanmu, bukan?   Aku yang kau doakan setiap malam,...

Cerpen : kehidupan ku yang rusak.

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Berhari-hari aku dan Dara hanya mengandalkan belas kasih dari orang-orang sekitar. Tidur beralaskan sajadah, makan dari sisa-sisa sedekah. Aku mencoba terlihat kuat di depan Dara, tapi kenyataannya, aku takut. Takut bagaimana jika dia sakit, bagaimana jika aku gagal melindunginya?   Dara yang masih kecil tak mengerti betapa keras dunia ini. Dia hanya menurut saat aku menggenggam tangannya, membawanya ke mana pun aku pergi. Aku harus mencari uang, secepatnya.   Awalnya aku hanya membantu orang-orang di sekitar masjid. Membersihkan halaman, mengangkat barang, apa pun yang bisa memberiku receh. Tapi itu tak cukup.   Sampai akhirnya, seseorang menawarkanku "pekerjaan". Katanya, mudah dan cepat dapat uang. Aku ragu, tapi saat itu aku tak punya pilihan. Dara butuh makan. Aku butuh uang untuk berobatnya.   Dan begitulah, dari seorang bocah polos yang tak tahu apa-apa, aku berubah. Aku mulai menyusuri jalan yang bahkan tak p...

PUISI : Negeri Para Juara

 Negeri Para Juara ~~~~ Selamat datang di negeri para juara,   Tempat di mana pemimpin berlagak dewa,   Janji melimpah, realita punah,   Rakyat disuruh sabar, meski perut sudah parah.   Mereka bilang kita kaya raya,   Tanah subur, tambang di mana-mana,   Tapi kenapa yang makmur segelintir saja?   Sedang yang lain mengais di sisa pesta?   Keadilan di sini bukan soal benar salah,   Tapi soal siapa yang punya kuasa dan modal.   Si kaya tersenyum, si miskin mengeluh,   Si pejabat tertawa, si buruh mengaduh.   Sekolah digembar-gemborkan sebagai solusi,   Tapi masuknya butuh uang sakti.   "Anak bangsa harus pintar dan kritis!"   Tapi kalau protes, malah ditindih.   Kesehatan dijamin katanya,   Asal kau punya uang berjuta-juta.   BPJS lambat, antrean tak karuan,   Tapi kalau pejabat, langsung diselamat...

PUISI : PETINGGI PETINGGI BUTA

 Heyy para pejabat pejabat laknattt!!!   Apa kau pikir istana megahmu akan selamanya berdiri?   Sementara pondasi negeri ini sudah lapuk sendiri!   Kami di sini, di sudut gelap yang kau lupakan,   Menjerit dalam sunyi, mengutuk dalam kehampaan!   Heyy para pejabat pejabat laknattt!!! Apa kau tidak mencium bau lapar kami?   Perut yang melilit, bibir yang kering, mata yang mati!   Sementara kalian berpesta di meja perjamuan,   Kami di sini mengais remah harapan!   Sampai kapan kau terus berlagak bisu?   Menutup telinga dengan emas yang kau curi dariku?   Apa kau pikir rakyat ini hanya angka?   Hanya statistik yang bisa kau reka-reka?   Kami bukan debu yang bisa kau sapu,   Kami bukan bayangan yang bisa kau lupakan!   Kami bukan boneka yang bisa kau gerakkan,   Kami adalah badai yang siap menerjang!   Maka lihatlah, w...

Puisi : Negeri Absurd yang Kucinta

   Di negeri yang katanya makmur sentosa,   Orang kaya tertawa, rakyatnya merana.   Para menteri bicara soal ekonomi meroket,   Tapi nasi di meja, tetap saja tak lengkap paket.   Mereka bilang, "Sabar, kita sedang maju,"   Tapi jalan berlubang tetap mengganggu.   Katanya sekolah itu wajib dan penting,   Namun biayanya bikin kantong kering.   Di TV mereka sibuk berdebat,   Membahas nasib rakyat yang melarat.   Sementara di balik gedung megah,   Mereka pesta anggaran dengan riang gelak.   Para wakil rakyat naik gaji,   Senyum lebar, perut membuncit sendiri.   Tapi buruh menjerit, petani menangis,   Harga pupuk naik, panenpun tragis.   Hukum katanya tak pandang bulu,   Namun keadilan kerap tersandung sepatu.   Si maling ayam langsung diciduk,   Koruptor miliaran dapat diskon hukuman yang redup...

Puisi : Pembaca atau sebagai penulis? karya selena

  Pembaca atau sebagai penulis?  Karya : Selena Di balik bait-bait yang kau ukir, Tersembunyi bayang-bayang keangkuhanmu, Kau anggap dirimu raja dan ratu di antara narasi narasi Cuih...  Dengan senyuman lebar, kau terima pujian, Hadiah yang terus mengalir deras, Namun, di dalam hatimu, Adakah kejujuran yang tersisa? Atau semua ini hanya topeng semu? Di balik lirik yang kau baca, Tersimpan ego yang membara, Mengaku sebagai penguasa kata, Sementara hening hatimu terabaikan oleh rasa. Kau bersenandung di atas panggung, Menari di antara kata-kata orang lain, Seolah semua ini adalah milikmu, Padahal, kau hanyalah penunjuk, Yang tak pernah menciptakan narasi. Dari kata kata yang kau baca, Kau bangun istana yang megah, Tapi adakah dindingnya terbuat dari kejujuran?  Atau hanya ilusi yang kau ciptakan, Dalam ruang kosong tanpa makna? Hahaha..hei tuan nona,. . Kau terlalu terbang tinggi..  Di atas puisi yang tak kau tulis, Kau merobek langit malam, Mendengar suara angi...

Puisi : Cinta Nyata Karya Selena

  Cinta nyata  Karya selena Mengenalnya berawal dari media sosial, Di antara foto dan kata, hati kita bertemu, Hingga menjadi pasangan di dunia nyata, Setiap detik bersamanya adalah anugerah yang tak terduga. Pada akhirnya, kini aku menjadi pemiliknya selamanya, Seperti bintang yang takkan redup, cahayanya takkan sirna. Banyak yang ingin menghancurkan hubungan ini, Namun cinta kami lebih kuat dari badai yang datang menghampiri. Di saat gelap, aku pegang tangannya, Berharap doa kami terjawab, terangkai dalam bahagia. Kita berlayar di lautan penuh gelombang, Namun harapan kita adalah kompas, takkan pernah hilang. Setiap tawa dan air mata, membentuk cerita kita, Seperti lukisan indah, yang takkan pernah pudar warnanya. Cinta ini bukan sekadar kata, Ia adalah perjalanan, tak terpisahkan oleh jarak dan waktu yang ada. Mereka bilang cinta takkan bertahan, Tapi kita buktikan, dengan setiap pelukan dan pandangan. Ketika badai menghantam, kita tetap berdiri, Dua jiwa, satu hati, takkan...

Puisi : Refleksi Dalam Arrogansi karya Selena

Refleksi Dalam Cermin Arrogansi Karya : Selena Di balik senyummu, ada racun yang tersembunyi,   Kau bawa keyakinan, seolah kau yang paling mengerti.   Dengan suara lantang, kau hiasi setiap kata,   Padahal, dalam hatimu, ada kepalsuan yang terlupa.   Kau datang dengan opini, seakan segalanya jelas,   Namun, di balik semua itu, hanya ada kebisingan yang lemas.   Kau bicarakan cinta, tanpa tahu rasanya,   Seolah kau peluk bintang, tanpa pernah melihatnya.   Dalam kerumunan, kau jadi pusat perhatian,   Namun, bagi jiwa yang peka, kau hanyalah bayangan.   Kau tunjukkan jalan, tapi tidak pernah melangkah,   Hanya mengisi ruang kosong dengan seribu alasan yang lelah.   Kau sok tahu segalanya, dari langit hingga bumi,   Tapi pernahkah kau lihat, betapa rapuhnya hati ini?   Kau buatku terdiam, dengan segala teori yang kau bawa,   Sementara dalam k...

Puisi : Jakarta Sore Karya Bolong

 Date: 2024/12/08 JAKARTA SORE Lihatlah di langit biru, sebentar lagi redup Awan itu akan berganti menjadi swastamita Menandakan sebentar lagi gelap Aku Hannya bisa memandangi pundakmu dari belakang meninggalkan kami di sini Aku tak pernah menyangka kalau itu akhir dari cerita kita Cerita yg dulu kita lalu bersama teman teman disini Bercanda gurau seperti burung burung di angkasa yg tak mengenal sedih Bagaikan satu keluarga yg di dalamnya hanya mengenal tawa  Rasanya waktu berputar terlalu cepat sampai aku melupakan kalau ini harus terjadi... Semakin lama semakin hilang dari pandangan  Tanpa sedikitpun kau menoleh ke belakang  Aku tauh, kau tak sanggup menahan air matamu  Aku tahu, ada rasa yg hilang selama ini di hatimu Aku tahu, hati dan kakimu sangat lah berat untuk melangkah pergi, dan Aku tahu, kau tak mampu menatap mata kami, walau hanya sekadar mengucapkan kata Selamat Tinggal  Kau tak perlu katakan itu,  kami sudah memahami Kalau kau bertanya d...